Teknologi bagi Tuna Netra

Perkembangan teknologi di bidang IT, medical engineering maupun biological engineering telah memberikan peluang pengembangan berbagai alat bantu yang ditunjang oleh teknologi modern. Serangkaian penelitian telah dilakukan melibatkan berbagai aspek teknologi, yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

1. Guide Device for the Visually Handicapped
Sistem ini merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian  Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Sistem ini dikembangkan dengan memadukan teknologi photoelectric & ultrasonic, untuk mendeteksi obstacle. Data ini kemudian ditransmisikan kepada user lewat micro-computer. Output dari transmisi berupa suara/bunyi yang akan diteruskan ke pendengaran pemakai. Dengan demikian, mereka akan dapat memahami situasi lingkungan di mana dia berada. Mereka pun dapat mengenali jenis obyek yang menjadi penghalang di depannya, sehingga dapat berjalan dengan aman.

2. Mesin foto copy Braille
Sistem ini dilengkapi dengan OBR (Optical Braille Character Reader). Pertama-tama draft yang tertulis dalam huruf braille akan mengalami proses “Braille Character Recognition”, dan hasil dari proses ini akan ditampilkan di CRT berupa huruf Braille ataupun huruf alphabet, dan katakana pada umumnya. Kemudian user akan mengoreksi sekiranya ada kesalahan pada hasil baca OBR tsb. dan kemudian, hasil editing ini akan diteruskan ke Braille I/O typewriter. Sebagaimana no.1 di atas, proyek ini juga merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan.

3. Book-reader for the Visually handicapped
System ini terdiri dari : alat otomatis untuk membalik halaman, scanner, character recognizer, sistem untuk analisa kalimat, speech synthesizer, dan recording unit. Cara kerja sistem ini adalah : Buku ditempatkan di posisi terbaca oleh scanner, dan kemudian scanner akan mengubah tampilan ke bentuk image. Selanjutnya character recognizer (OCR) akan melakukan transformasi image-character, dan sehingga didapat text-based information. Hasil proses ini akan melalui analisa gramatikal, sehingga didapat kalimat yang benar secara grammar dan dapat difahami. Selanjutnya speech synthesizer akan mengubah kalimat ini ke dalam media suara, sehingga dapat dipahami oleh penderita tuna netra.

4. Three-dimensional Information Display Unit
Display ini dibuat dari banyak pin 3 dimensi. Alat ini ditujukan khusus untuk para tuna netra, sehingga informasi lingkungan yang berada di depannya akan diterjemahkan ke dalam pattern tertentu yang ditunjukkan oleh komposisi pin pada display.

5. Sistem Navigasi menggunakan Optical Beacon (Tokai University)
Sistem ini ditujukan untuk membantu membimbing user (tuna netra) di dalam ruangan, agar bisa menuju lokasi yang diinginkan dalam suatu bangunan. Dibandingkan dengan sistem navigasi yang memakai GPS, sistem yang ditunjang oleh optical beacon ini memiliki keunggulan dalam pemakaian dalam ruangan. GPS memang memberikan informasi yang cukup handal untuk pemakaian di outdoor environment, akan tetapi kurang tepat untuk pemakaian indoor. Sistem yang dikembangkan oleh team Tokai University ini diuji dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan optical beacon yang berfungsi sebagai transmitter sinar infra merah. User membawa sebuah receiver yang menerima signal dan informasi yang dipancarkan oleh optical beacon tsb. Selanjutnya dari signal ini, system akan menghitung posisi dimana user berada. Informasi posisi ini akan dipancarkan ke user, dan receiver akan meneruskannya ke processing unit (notebook computer) yang dibawa oleh user. Informasi posisi ini akan berfungsi sebagai input bagi processing unit, dan outputnya adalah informasi berupa suara dari speaker, yang menuntun user ke arah tujuan yang diinginkan.

6. Pengembangan sistem transfer informasi visual 3 dimensi ke dalam informasi dimensional virtual sound. (Tsukuba University).
Informasi visual disekeliling user diperoleh melalui stereo kamera, untuk memperoleh gambaran 3 dimensi posisi dan situasi dimana user berada. Kemudian informasi ini diterjemahkan dan disampaikan kepada user dengan memakai 3 dimensional virtual acoustic display. Dengan demikian user akan memperoleh informasi benda apa saja yang disekitarnya dan bagaimana pergerakan masing-masing object tsb.

Walau terbilang langka, tetapi penelitian dan pengembangan sistem rehabilitasi tuna netra telah mulai dilakukan juga di Indonesia. Pada tahun 1991, telah didirikan Mitra Netra Foundation sebagai salah satu lembaga yang memberikan pengabdian bagi rehabilitasi tuna netra. Lembaga ini melakukan kolaborasi dengan BPP Teknologi, dan dalam kerjasama tsb. Direncanakan pengembangan teknologi text to speech synthesizer, yang mengubah tampilan pada monitor komputer ke dalam informasi berupa suara. Beberapa tema penelitian yang barangkali dapat dirintis untuk dikembangkan di Indonesia antara lain:
1. OCR : Roman Alphabets-Braille Converter System
System ini merupakan pengembangan software OCR, sehingga hasil scanning terhadap buku, dokumen,suratkabar dsb. akan diubah format penyajiannya ke dalam braille-based output. Selain itu terbuka juga kemungkinan untuk memadukannya dengan text to speech synthesizer sehingga didapat output berupa suara.
2. Pengembangan perpustakaan CD yang dikhususkan bagi para tuna netra, sesuai dengan standar internasional DAISY (Digital Audio-Based Information System). Di Jepang, sistem ini telah berkembang dengan baik, dan dengan memanfaatkan teknologi kompresi, sebuah CD dapat menyimpan rekaman sepanjang 50 jam.
3. Pengembangan software voice recognition system khusus untuk bahasa Indonesia, sebagai media input bagi komputer.
4. Pengembangan dan pengadaan software komputer yang diperuntukkan khusus bagi tuna netra..

Selain teknologi yang dikembangkan di atas, terdapat beberapa software yang telah dikenal dan dijual secara bebas yang sifatnya TTS (Text to Speech) synthesizer. Software tersebut adalah:

JAWS (Job Access With Speech)

Jaws for Blind and Low VisionJaws adalah piranti pembaca layar  screen reader) yang memang dikhususkan bagi penderita gangguan penglihatan. Software ini diproduksi oleh The Blind and Low Vision Group at Freedom Scientific of St. Petersburg, Florida, USA. Tujuannya adalah untuk membuat komputer yang digunakan dapat diakses oleh kalangan tuna netra dengan cara menterjemahkan visual  yang terpampang di layar monitor kedalam suara. Hal ini meliputi jendela aplikasi yang keluar, pengguanaan perinta/command, hal hal yang diketik, informasi teknis dokumen (misal ukuran byte-nya, ukuran font, huruf apa yang digunaan, kecepatan bicara dan seterusnya. Software ini juga dapat dimodifikasi oleh masing masing orang, terutama terkait dengan shortcut ataupun command yang digunakan untuk mempermudah kerja tuna netra yang bersangkutan. Sejauh ini JAWS hanya dapat digunakan pada komputer yang menggunakan system operasi Windows dan menggunakan ejaan Inggris dalam pengucapannya. Software ini merupakan akses yang paling esensial bagi tuna netra saat ini untuk melakukan pekerjaannya, terutama yang berkaitan dengan komputer.

Nuance TALKS

Nuance TALKS adalah softare keluaran Nuance yang berfungsi sebagai Text to Speech yang digunakan pada telepon genggam. Aplikasi ini dapat dijalankan pada telepon genggam yang telah menggunakan teknologi Symbian™ . Software ini menyebutkan apapun yang terjadi dengan telepon genggam, seperti panggilan telepon masuk, sms, menu, dan sebagainya.

MLM for the Blind

MLM for the Blind kependekan dari My Learning Module for the Blind, yaitu sebuah alat media baca elektronik untuk para tuna netra yang beroperasi tanpa komputer (stand alone). MLM merupakan alat yang merekayasa perangkat keras dan lunak sekaligus, untuk membuat para tuna netra memiliki alat pembaca buku digital portabel. Diciptakan oleh Erik Taurino Chandra, Rico Wijaya dan Yudhi yang merupakan mahasiswa IT dari  Universitas Bina Nusantara , alat ciptaan mereka ini mampu menerjemahkan tulisan elektronik atau artikel e-book ke dalam huruf Braille, dan enaknya bisa ditenteng-tenteng kemana saja oleh teman-teman tuna netra. Masalah keterbatasan bahan bacaan bagi para tuna netra, diatasi oleh kreatifitas dahsyat mereka bertiga.

MLM for the Blind

MLM for the Blind terdiri dari tombol input, 42 braille cells, buzzer dan Multi Media Card (MMC). Tombol input digunakan untuk memilih judul, membuka bacaan menampilkan baris bacaan serta input halaman bacaan. 42 braille cells akan menampilkan karakter braille. Dua karakter pertama akan menampilkan baris bacaan dan 40 karakter lainnya merupakan isi bacaan yang ditampilkan. Sedangkan buzzer digunakan untuk memberikan pesan kesalahan pada pengguna. Data yang bisa dibaca oleh alat ini melalui MMC yaitu dalam bentuk textfiles (*.txt). MLM for the Blind masuk dalam nominasi INAICTA 2009 kategori ‘e-Learning’. Saat Malam Penganugerahan lalu (29/7), produk ini mendapatkan gelar Special Mention, yaitu bentuk penghargaan tersendiri dari juri yang penilaiannya tidak bisa diganggu gugat.

sumber:
Laporan Tugas akhir Rahma Utami, DKV ITB
http://kickandy.com/theshow/2010/03/05/1836/1/1/1/INOVASI-TIADA-BATAS-
http://www.teknopreneur.com/content/kabar-baik-untuk-tuna-netra-dari-mlm-blind


Advertisements

Langkah awal

Sebuah langkah awal yang sejauh ini direncanakan adalah membangun online campaign. Blog ini salah satunya sebagai base information ketika orang ingin mengetahui tentang kampanye ini. Content dapat berubah sewaku-waktu namun update-an akan terbatas pada progress yang dihasilkan, peluang/kesempatan yang dimiliki, dan fakta yang dapat membangun dan mengembangkan kampanye ini.

Sejauh ini, baik media blog dan twitter baru merupakan usaha personal. Diharapkan ketika nanti kampanye ini benar2 terjalin antara pihak-pihak terkait, kedua media online ini dapat di kembangkan dan dijalankan bersmaa-sama oleh seluruh aspek tim kampanye.

Secara ide, saya sendiri terpikirkan untuk pengajuan pembuatan job database seperti JobsStreet atau JobsDB bangi kalangan tuna netra sebagai upaya 2 arah dalam mepromosikan kemampuan mereka. Arah pertama : ara tuna netra dapat memberikan informasi mengenai kompetensi yang mereka miliki, arah kedua: perusahaan juga memiliki field pencarian yang jelas serta dapat menghubungi orang yang menarik dan memiliki kompetensi yang dicari perusahaan. Harapannya dapat terjadi semacam interaksi juga disini. Yang saya tahu, perencanaan ke arah ini ternyata telah dimulai juga oleh PERTUNI (wah, ternyata ide kita sama ). Namun progress reportnya belum dapat dilaporkan disini.

Ketika prototype website ini jadi, maka langkah selanjutnya *yang sebeulnya dapat dilaksanakan secara pararel selama pembuatan prototype website* adalah database dari para tuna netra berkompetensi. Nantinya data ini dapat dimasukan baik secara offline (dari pembangun ‘jobsDB’ nya) maupun online personal tiap tuna netra. maka dari iu, selain database awal yang tealh dimiliki, diperlukan upaya promosi di kalangan tuna netra sendiri tentang keberadaan web ini sendiri untuk membantu aksebilitas mereka dalam memasuki dunia kerja. Hal ini akan terus menerus berjalan.

Sambil menunggu jobs DB ini selesai, kampanye pada tahap Conditioning sudah dapat mulai digencarkan.

Setelah web siap dan sekiranya database dalam si ‘JobsDB’ ini dirasa mencukupi, barulah diadakan semacam Grand Launching. Jika dalam tahapan kampanye, hal ini berbarengan dengan tahapan informing, dimana goalnya adalah terbukanya kesempatan interview yang adil bagi para tuna netra. Saran saya betul-betul berupa suatu acara offline yang didukung oleh segenap mass media terkait dengan mass publication dan mass communication. Bentuk offline event nya sendiri sejauh ini masih seperti yang saya rencanakan di tugas akhir, paduan antara Experience, music, talk show, dan exhibition dimana pihak-pihak yang diundang betul-betul bukan sembarang pihak (okay, terdengar agak kurang riil objeknya, tapi saya rasa cukup ngerti kan?)

ohya…semoga bisa diwujudkan.

Segala partisipasinya akan kami hargai 😀